Manajemen Kelas
Nama: Ali Zainul Abidin
Kelas: PAI 4 E
Nim: 11901172
Mata Kuliah: Magang 1
Manajemen Kelas
Assalammualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh, pada pertemuan ketiga ini saya akan membahas
manjemen kelas yang mana hal ini sama pentingnya dengan manjemen pendidikan. Hanya
saja manjemen kelas ini berada di lingkungan sekolah dan lebih tepatnya berada
di lingkungan kelas. Langsung saja kita masuk ke pembahasan.
Pengelolaan ialah terjemahan dari kata
Management. Sebab terbawa oleh derasnya arus akumulasi kata pungut kedalam
Bahasa Indonesia, hingga sebutan Inggris tersebut setelah itu di Indonesia kan
jadi Manajemen. Makna dari Manajemen merupakan pengelolaan, penyelenggaraan,
ketatalaksanaan penggunaaan sumber energi secara efisien buat menggapai tujuan/
target yang di idamkan. Hingga, bisa disimpulkan kalau
pengelolaan/ manajemen merupakan penyelenggaraan ataupun pengurusan supaya
suatu yang dikelola bisa berjalan dengan mudah, efisien serta efektif.
Saat sebelum kita mangulas tentang
Manajemen Kelas, alangkah baiknya kita tahu terlebih dulu apa penafsiran
daripada kelas itu sendiri. Didalam Didaktik tercantum sesuatu penafsiran
universal menimpa kelas, ialah sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima
pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Sebaliknya kelas bagi penafsiran
universal bisa dibedakan atas 2 pemikiran, ialah pemikiran dari segi raga serta
pemikiran dari segi siswa. Disamping itu, Hadari Nawawi juga
memandang kelas dari dua sudut, yakni:
a.
Kelas dalam arti sempit: ruangan yang
dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul
untuk mengikuti Proses Belajar Mengajar. Kelas dalam pengertian
tradisional ini, mengandung sifat statis karena
sekedar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya,
antara lain berdasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
b.
Kelas dalam arti luas: suatu masyarakat
kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang
sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja
yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar
yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan. Jadi, dapat
diambil kesimpulan bahwa kelas diartikan sebagai ruangan belajar
atau rombongan belajar, yang dibatasi oleh empat dinding atau tempat peserta
didik belajar, dan tingkatan (grade). Ia juga dapat dipandang sebagai kegiatan
belajar yang diberikan oleh guru dalam suatu tempat, ruangan, tingkat dan
waktu tertentu.
Berikut ini beberapa pengertian
manajemen kelas dari beberapa sumber referensi buku:
·
Menurut
Nawawi (1982:115), manajemen kelas adalah kemampuan guru atau wali kelas dalam
mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya
pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan
terarah, sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien
untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan
perkembangan murid.
·
Menurut
Arikunto (1992:67), manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh
penanggung-jawab kegiatan belajar-mengajar atau yang membantu dengan maksud
agar dicapainya kondisi yang optimal, sehingga dapat terlaksana kegiatan
belajar seperti yang diharapkan.
·
Menurut
Djamarah (2000:173), manajemen kelas adalah suatu upaya memberdaya gunakan potensi kelas yang ada
se-optimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai tujuan
pembelajaran.
·
Menurut
Suhardan dkk (2009:106), manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan
untuk mewujudkan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat
memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Atau dapat
dikatakan bahwa manajemen kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan
proses belajar mengajar secara sistematis.
·
Menurut
Sulistiyirini (2006:66), manajemen kelas adalah proses atau upaya yang
dilakukan oleh seseorang guru secara sistematis untuk menciptakan dan
mewujudkan kondisi kelas yang dinamis dan kondusif dalam rangka menciptakan
pembelajaran yang efektif dan efisien.
Dari penejelasan diatas bisa saya ambil pemahaman bahwa manajemen kelas
adalah sebuah upaya kerjasama yang dilakukan oleh para pendidik dan para murid
dalam menciptakan sebuah suasana kelas yang baik didalam lingkungan sekolah. Dengan
terciptanya suasana kelas yang baik maka akan tercipta harmonisasi anatara guru
dan murid. Jika situasi kelas baik maka ketika mengadakan kegiatan belajar
mengajar akan tercipta suasana yang nayaman bagi guru dan murid. Untuk tercapainya
manajemen kelas yang baik maka guru memiliki tugas dan wewenang yang besar
dalam mewujudkan ini. Seorang guru haruslah mampu menciptakan susasana kelas
dan mengendalikannya dengan baik.
Tujuan
pengelolaan kelas pada hakikatnya sudah tercantum dalam tujuan pembelajaran.
Secara universal tujuan pengelolaan kelas merupakan penyediaan sarana untuk
beragam aktivitas belajar siswa dalam area sosial, emosional, serta intelektual
dalam kelas. Sarana yang disediakan itu membolehkan siswa belajar serta
bekerja, terciptanya atmosfer sosial yang membagikan kepuasan, atmosfer
disiplin, pertumbuhan intelektual, emosional serta perilaku dan apresiasi pada
siswa. Tujuan manajemen kelas ataupun pengelolaan merupakan selaku berikut:
·
Mewujudkan suasana serta keadaan kelas, baik selaku area
belajar ataupun selaku kelompok belajar.
·
Melenyapkan bermacam hambatan belajar yang bisa membatasi
terwujudnya aktivitas belajar.
·
Sediakan serta mengendalikan sarana dan perabot belajar
yang menunjang serta membolehkan siswa belajar cocok dengan area sosial,
emosional, serta intelektual siswa di kelas.
·
Membina serta membimbing cocok dengan latar balik sosial,
ekonomi serta budaya dan watak individual.
Dalam
manajemen kelas ada sebagian prinsip yang wajib dicermati selaku prasyarat
menghasilkan satu model pendidikan yang efisien serta efektif
1.
Prinsip Kesiapan( Readiness): Kesiapan belajar yakni
kematangan serta perkembangan raga, psikis, inteligensi, latar balik
pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, anggapan serta faktor- faktor
lain yang membolehkan seorang bisa belajar.
2.
Prinsip Motivasi( Motivation): Motivasi merupakan tenaga
pendorong ataupun penarik yang menimbulkan terdapatnya tingkah laku ke arah
sesuatu tujuan tertentu. Terdapatnya motivasi pada partisipan didik hingga
hendak bersungguh- sungguh menampilkan atensi, memiliki atensi, serta rasa mau ketahui
yang kokoh buat turut dan dalam aktivitas belajar, berupaya keras serta
membagikan waktu yang lumayan buat melaksanakan aktivitas tersebut dan terus
bekerja hingga tugas- tugas tersebut terselesaikan.
3.
Prinsip Perhatian: Atensi ialah sesuatu strategi kognitif
yang mencakup 4 keahlian ialah berorientasi pada sesuatu permasalahan, meninjau
sepintas isi permasalahan, memusatkan diri pada aspek- aspek yang relevan serta
mengabaikan stimuli yang tidak relevan. Dalam proses pendidikan atensi ialah aspek
yang besar pengaruhnya.
4.
Prinsip Persepsi: Prinsip universal yang butuh dicermati
dalam memakai anggapan merupakan( a) kian baik anggapan menimpa suatu kian
gampang partisipan didik belajar mengingat suatu tersebut.( b) dalam pendidikan
butuh dihindari anggapan yang salah sebab perihal ini hendak membagikan
penafsiran yang salah pula pada partisipan didik tentang apa yang dipelajari(
c) dalam pendidikan butuh diupayakan bermacam sumber belajar yang bisa
mendekati barang sebetulnya sehingga partisipan didik mendapatkan anggapan yang
lebih akurat.
5.
Prinsip Retensi: Retensi merupakan apa yang tertinggal
serta bisa diingat kembali sehabis seorang menekuni suatu. Dengan retensi
membuat apa yang dipelajari bisa bertahan ataupun tertinggal lebih lama dalam struktur
kognitif serta bisa diingat kembali bila dibutuhkan. Sebab itu, retensi sangat
memastikan hasil yang diperoleh partisipan didik dalam proses pendidikan.
6.
Prinsip Transfer: Transfer ialah sesuatu proses dimana
suatu yang sempat dipelajari bisa mempengaruhi proses dalam menekuni suatu yang
baru. Dengan demikian, transfer berarti pengaitan pengetahuan yang telah
dipelajari dengan pengetahuan yang baru dipelajari. Pengetahuan ataupun
keahlian yang diajarkan di sekolah senantiasa diasumsikan ataupun diharapkan
bisa dipakai buat membongkar permasalahan yang dirasakan dalam kehidupan
ataupun dalam pekerjaan yang hendak dialami nanti.
Pendekatan
yang dicoba oleh seseorang guru dalam Manajemen Kelas hendak sangat dipengaruhi
oleh pemikiran guru tersebut terhadap tingkah laku siswa, ciri sifat serta
watak siswa, serta suasana kelas pada waktu seorang siswa melaksanakan
penyimpangan. Dibawah ini terdapat sebagian pendekatan yang bisa dijadikan
selaku alternatif pertimbangan dalam upaya menciptakan disiplin kelas yang
efisien.
Seorang guru
haruslah tegas dalam menegakkan peraturan kelas agar tidak terjadi penyimpangan
didalam kelas tersebut. Contohnya apabila seorang murid membawa barang-barang
yang seharusnya tidak boleh dibawa maka seorang guru haruslah tegas dalam
menegakan peraturang dengan mengambil atau menyita barang barang tersebut. Disisi lain seorang guru haruslah memotivasi
muridnya untuk menjalani kegiatan belajar ini. Jika murid merasa mulai bosan
dan malas ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung, disana peran guru
sebagai motivator dibutuhkan. Guru haruslah memperhatikan kondisi psikologis
peserta didiknya agar ketika menyampaikan materi ia akan mudah menerima dan
paham dengan materi yang telah kita sampaikan.
Guru harus
berimprovisasi ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung agar bisa
menumbuhkann semangat belajar para peserta didiknya. Tetapi jangan sampai improvisasi
yang dilakukan oleh seorang guru melenceng dari peraturan yang sudah ditetapkan. Kegagalan
seseorang guru menggapai tujuan pendidikan berbanding lurus dengan ketidak
mampuan guru mengelola kelas. Penanda dari kegagalan itu semacam prestasi
belajar murid rendah, tidak cocok dengan standar ataupun batasan dimensi yang
didetetapkan. Sebab itu, pengelolaan kelas ialah kompetensi guru yang sangat
berarti.
Dalam
aktivitas belajar mengajar ada 2 perihal yang ikut memastikan sukses tidaknya
sesuatu proses belajar mengajar, ialah pengelolaan kelas serta pengajaran itu
sendiri. Kedua perihal itu silih bergantung. Keberhasilan pengajaran, dalam
makna tercapainya tujuan- tujuan intruksional sangat tergantung pada keahlian
mengelola kelas. Kelas yang baik bisa menghasilkan suasana yang membolehkan
siswa belajar sehingga ialah titik dini keberhasilan pengajaran.
Siswa bisa
belajar dengan baik, dalam atmosfer yang normal tanpa tekanan serta dalam
keadaan yang memicu buat belajar. Mereka membutuhkan tutorial serta dorongan
buat mamahami bahan pengajaran dalam bermacam aktivitas belajar. Buat
menghasilkan atmosfer yang meningkatkan gairah belajar, tingkatkan prestasi belajar
siswa, serta lebih membolehkan guru membagikan tutorial terhadap siswa dalam
belajar, dibutuhkan pengorganisasian ataupun pengelolaan kelas yang mencukupi.
Pengorganisasian kelas merupakan sesuatu rentetan aktivitas guru buat
meningkatkan serta mempertahankan organisasi yang efisien, yang meliputi:
tujuan pengajaran, pengaturan pemakaian waktu yang ada, pengaturanruangan serta
perabotan pelajaran, dan pengelompokan siswa dalam belajar.
Apabila
pengaturan keadaan belajar optimal dengan sendirinya, besar mungkin proses
pendidikan hendak berlangsung secara optimal pula. Kebalikannya, apabila ada
kekurangan antara tugas serta fasilitas ataupun perlengkapan, ataupun
terputusnya antara satu kemauan dengan kemauan lain, ataupun kebutuhan dengan
pemenuhannya, hingga terjadilah kendala terhadap proses belajar yang diartikan.
Kendala bisa bertabiat sedangkan serta ringan serta bisa pula bertabiat
sungguh- sungguh serta terus menerus. Kendala yang awal mempersyaratkan
ketrampilan mendisiplin buat mengembalikan hawa belajar yang serasi, sebaliknya
kendala yang kedua menuntut keahlian melaksanakan aksi rasional remedial.
Sumber:
https://www.kajianpustaka.com/2017/11/pengertian-tujuan-dan-prinsip-manajemen-kelas.html
Komentar
Posting Komentar