Kultur Sekolah

Nama: Ali Zainul Abidin

Kelas: PAI 4 E

Nim: 11901172

Mata Kuliah: Magang 1

 

KULTUR SEKOLAH

Assammualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Perkenalkan Nama saya Ali Zainul Abidin. Saya adalah Mahasiswa di IAIN Pontianak dan Saat ini saya berada di semester 4. Pada pertemuan pertama ini, izinkan saya menyampaikan pemahaman saya mengenai Kultur Sekolah. Setelah membaca referensi tentang kultur sekolah saya menjadi mendapatkan pengetahuan yang akan saya sampaikan dalam tulisan ini.  Dan juga saya akan memberikan sedikit gambaran tentang kultur sekolah yang berdasarkan pada pengalaman saya selama menjadi siswa di suatu sekolah. Dalam mata kuliah magang ini akan kita awali dengan pembahasan mengenai kultur sekolah yang ada di lingkungan pendidikan indonesia.

Tujuan dari diadakannya pendidikan di indonesia adalah untuk membentuk dan melatih para generasi muda bangsa indonesia, agar terciptanya para intelektual yang berkualitas. Dengan ada nya tujuan ini, sekolah memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan dasar karakter para peserta didik. Hal ini tertuang dalam Undang Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional  (UUSPN) bab II pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan  menyatakan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Serta Bab III pasal 4 yang menyatakan “Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.” Dan bab IV pasal 5 yang menyatakan “Setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.”

Degan adanya UU diatas maka sekolah harus mampu melaksanakan amanat itu dengan baik dan sesuai dengan prosedur yang ada. Untuk melaksanakan itu maka sekolah memerlukan kultur sekolah agar tujuan yang diinginkan berjalan sesuai dengan apa yang di harapkan. Kultur sekolah merupakan himpunan dari beberapa kegiatan yang ada di dalam suatu lingkungan sekolah. Baik itu peraturan-peraturan atau norma norma yang berlaku didalam lingkungan sekolah tersebut. Kultur sekolah terjadi karena ada interaksi antar satu individu dengan individu yang lain. Jika tidak ada interaksi antara satu dengan yang lain nya maka kultur sekolah tidak akan terjadi. Kultur sekolah juga menjadi identitas suatu sekolah, Untuk itu sekolah memiliki peran yang besar dalam membentuk karakter para peserta didik. Ketika kultur sekolah tidak berajalan dengan baik maka kepedepannya karakter para siswa juga akan mengalami perubahan yang buruk walaupun tidak semua.

Pemerintah juga memiliki peranan yang besar dalam  mempengaruhi kultur sekolah yang mana pemerintah mengatur UU dan kurikulum pendidikan. Pemerintah haruslah membuat UU dan Kurikulum yang bisa diterima masyarakat indonesia tetapi tidak lupa juga untuk menyesuaikan dengan standar pendidikan internasional. Hal ini diperlukan agar kultur sekolah terjaga dengan baik. Disisi lain pemerintah juga harus mengawasi sekolah-sekolah agar kultur sekolah tidak menyimpang dari aturan atau norma yang berlaku pada masyarakat Indonesia. Tidak lupa pula pemerintah perlu mendukung sekolah dalam menyukseskan program kultur sekolah yang baik dengan memberikan dana dan sarana prasarana yang memadai.

Selanjutnya masyarakat juga punya pengaruh  yang besar dalam kultur suatu sekolah. Karena letak geografis suatu sekolah sering kali sekolah itu terkena dampak dari kultur masyarkat sekitar walaupun tidak semua tetapi ada beberapa yang seperti itu. Untuk itu kultur masyarakat yang baik akan memberikan dampak yang baik terhadap kultur sekolah.

Berikutnya peran orang tua dalam menyukseskan kegiatan kultur sekolah yang baik. Orang tua harus menyiapkan anaknya untuk menghadapi kultur sekolah agar tidak terjadi hambatan dalam prosesnya. Dengan memberikan pengetahuan dan dukungan penuh, anak akan siap menerima kultur sekolah. Jika orang tua tidak menyiapkan bekal pada anaknya maka nanti si anak akan mengalami kesulitan ketika menghadapi kultur sekolah.

Yang terakhir adalah individu dari peserta didik itu sendiri yang mana meraka harus bisa beradaptasi cepat dan menerima kultur sekolah tersebut. Agar tidak terjadi hambatan ketika mereka ikut melaksanakan program kultur sekolah tersebut. Walaupun ada beberapa peserta didik yang termasuk golongan yang sulit untuk beradaptasi tetapi tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Dalam hal ini para ahli mengemukakan beberapa pendapat mengenai kultur sekolah, Menurut Peterson (2002), suatu budaya sekolah mempengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa. Sedangkan menurut Willard Waller (Deal & Peterson, 2011), sekolah memiliki budaya yang pasti tentang diri mereka sendiri. Di sekolah, ada ritual yang kompleks dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang berlaku di antara mereka. Orangtua, guru, kepala sekolah, dan siswa selalu merasakan sesuatu yang istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan, tentang sekolah mereka, tentang sesuatu yang sangat kuat namun sulit untuk dijelaskan. Kenyataan ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan dan akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusi-diskusi tentang upaya perbaikan sekolah. (Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 No.1 , Mei 2013)

Dalam literatur sosiologi pendidikan, kebudayaan sekolah dimaknai sebagai: a complex set of beliefs, values and traditions, ways of thinking and behaving, yaitu seperangkat keyakinan, nilai, dan tradisi, cara berpikir dan berperilaku yang membedakannya dari institusi-institusi lainnya (Vembriarto, 1993). Lebih lanjut dikemukakan bahwa kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, yaitu:

1. Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.

2. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, nonteaching specialist, dan tenaga administrasi.

3. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.

4. Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah gedung sekolah, mebelair, dan perlengkapan lainnya. (Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 No.1 , Mei 2013)

 

Menurut pemahaman saya mengenai pendapat para ahli diatas tentang kultur sekolah adalah:

1. Kultur sekolah merupakan identitas sebuah sekolah

2. kultur sekolah terikat dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang berlaku di antara mereka.

3. kultur sekolah menghubungkan individu yang satu dengan yang lainnya (Guru, Murid, Orang tua Murid)

4. masyarakat menjadi peran pendukung dalam segala kegiatan kultur sekolah

5. peraturan dan norma yang berada di sekolah menjadi bagian dalam kultur sekolah

6. letak geografis sekolah, kebudayaan dan perilaku individu memberikan pengaruh kepada kultur sekolah.

 

Setelah memaparkan pemahamanan saya mengenai pendapat para ahli diatas, saya akan menceritakan tentang pengalaman pribadi tentang proses kultur sekolah yang saya alami. Ketika itu umur saya 16 tahun dan baru lulus SMP. Begitu lulus saya mulai untuk mendaftarkan diri ke SMA yang dekat rumah saya. Awal mula menjalani proses pembelajaran di SMA, saya mengalami Cultur Shock  yang mana terjadi banyak perbedaan. Karena kondisi lingkungan yang baru saya harus bisa cepat beradaptasi agar bisa mengikuti kultur sekolah itu. Saya terkejut karena ketika saya SMP banyak mengajarkan tentang pelajaran umum dan kondisi lingkungan yang mempersulit kehidupan saya ( Bullying). Tetapi ketika memasuki jenjang SMA saya merasakan perbedaan yang sangat mencolok yaitu, mata pelajaran yang diajar kan 50% agama dan %50 umum. Bisa dibilang sekolahan saya berbasis agama (Madrasah Tsanawiyah).

 

Lingkungan yang baik dan terbuka membuat saya merasa nyaman dengan lingkungan yang baru ini. Bagaimana tidak guru yang selalu memberikan bimbingan ketika belajar dan memberikan nasihat tentang kehidupan membuat pikiran saya terbuka. Dan disinilah awal mula pembentukan karakter dan proses pendewasaan saya dimulai. Ketika sekolah di SMA baru pertama kalinya merasakan dihargai dan ini sangat berbeda ketika saya di SMP. Perubahan yang signifikan sangat saya rasakan ketika berada di dalam lingkungan yang baik. Hal ini sama seperti yang di sampai di dalam sebuah hadits nabi yang mana bunyi nya Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628). Apa yang saya alami sama seperti hadits diatas yang mana ketika SMP saya menjadi murid yang teribilang sedikit nakal karena bergaul dengan anak yang nakal juga. Akibat pergaulan yang buruk tersebut saya mengalami penurunan dalam hal akademis. Tetapi Semua itu berubah ketika saya memasuki jenjang SMA yang mana saya merasakan menjadi lebih baik. Lingkungan yang membuat pikiran saya terbuka dan teman teman yang bisa di ajak dalam bertukar pikiran. Hal ini yang membuat saya memiliki motivasi menjadi lebih baik lagi dan pada akhirnya saya pada titik ini.

 

Dari cerita pengalaman yang saya alami ini bisa kita simpulkan bahwa kultur sekolah sangat berpengaruh dalam membentuk karakter para peserta didik. Dukungan dari lingkungan yang baik akan menjadikan orang yang awal nya tidak baik menjadi baik dan begitu juga sebaliknya. Yang bisa merubah karakter seorang manusia adalah proses perjalanan hidupnya. Dan dalam hal ini kultur sekolah memiliki peran yang besar. Dukungan dari pemerintah, sekolah, masyarakat, orangtua, dan peserta didik itu sangat diperlukan agar tercapai tujuan pendidikan yang baik. Untuk itu marilah kita sebagai bangsa indonesia saling merangkul antara satu dengan yang lain nya jangan saling menyalahkan ketika terjadi sebuah kegagalan. Sebab bangsa yang baik adalah ketika mayaratkatnya saling bersatu. Dengan adanya kultur sekolah ini menjadi salah satu wadah kita untuk memanjukan bangsa dan membentuk karakter para penerus bangsa dengan baik. Mungkin hanya ini saja yang bisa saya sampaikan, jika banyak kekurangannya mohon dimaafkan karena saya masih dalam proses belajar dan masih seorang pemula. Sekian Terima Kasih.

 

 

 

Note: link di bawah adalah  sumber referensi saya

 

https://www.researchgate.net/profile/Ariefa-Efianingrum/publication/332195701_Kultur_Sekolah/links/5e8b283b299bf13079805e7c/Kultur-Sekolah.pdf?origin=publication_detail

http://www.sman1subang.sch.id/html/index.php?id=artikel&kode=28#:~:text=Kultur%20sekolah%20adalah%20budaya%20sekolah,menjadi%20standar%20perilaku%20yang%20diharapkan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Pandangan Pertama

Karatkteristik Peserta Didik